Cerita Tentang

Pemain Sepak Bola Beresiko Tinggi Terkena Serangan Jantung

Duka kembali mewarnai persepakbolaan dunia. Hari Sabtu (14/4) kemarin, salah satu pesepakbola profesional asal Italia, Piermario Morosini, menghembuskan nafas terakhirnya. Pemain klub Serie-B Livorno itu mendadak jatuh tak sadarkan diri akibat serangan jantung saat pertandingan melawan Pescara. Tim medis bergerak cepat untuk menyelamatkan Morosini. Sayang, nyawanya tidak tertolong lagi.
Peristiwa ini bukanlah yang pertama kali terjadi di sepak bola. Beberapa waktu yang lalu, Fabrice Muamba, pemain Bolton, juga mengalami hal yang serupa. Pemain yang berposisi sebagai gelandang tengah itu mengalami serangan jantung di tengah-tengah pertandingan. Beruntung, nyawanya masih bisa diselamatkan.

Serangan Jantung dan Olahraga
Serangan jantung menjadi momok yang menakutkan bagi semua orang, tak terkecuali para olahragawan. Namun, muncul pertanyaan, mengapa seorang atlet yang secara rutin melatih dan menjaga kebugaran tubuhnya juga dapat mengalami serangan jantung? Hal ini coba dijelaskan oleh Owen Anderson, dalam artikelnya yang berjudul Heart attack risks are greater for athletes who compete in endurance sports.
Owen menjelaskan bahwa 1 dari 50.000 atlet olahraga ketahanan (seperti marathon, triathlon, dll) beresiko tinggi mengalami serangan jantung. Hasil ini diperoleh setelah meneliti kandungan enzim cardiac troponin I pada 38 atlet sepeda yang mengikuti kompetisi Tyrolean Otztaler Radmarathon tahun 1999 lalu. Enzim cardiac troponin adalah enzim yang lazim terkandung dengan jumlah yang tinggi pada darah seseorang yang terdeteksi mengalami serangan jantung.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kandungan cardiac troponin I meningkat pada 13 pesepeda (34%) setelah mengikuti kompetisi tersebut. Faktor-faktor yang menjadi pemicunya antara lain karena usia (makin muda makin “buruk”), catatan waktu (semakin cepat, resiko bertambah tinggi), dan jarak yang ditempuh saat latihan. Melakukan latihan dan pertandingan dengan volume yang tinggi menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan myocardial.
Jika dibandingkan dari jarak tempuh, sepak bola tidak kalah berat dengan olahraga ketahanan lainnya. Menurut Anwari Irawan, pesepakbola profesional rata-rata mempunyai total jarak tempuh 9-12 km per pertandingan, dengan aktivitas lari cepat (sprint) dan aktivitas bertenaga intensitas tinggi secara total rata-rata sejauh 500 m dan 2.1 km.
Pemain dengan jarak tempuh rata-rata total lebih dari 10 km per pertandingan umumnya adalah pemain yang berposisi gelandang serang atau juga playmaker. Shunsuke Nakamura contohnya, gelandang serang bintang sepakbola Jepang ini mempunyai jarak tempuh rata-rata 12 km per pertandingan saat membawa Glasgow Celtic menjuarai liga Skotlandia pada musim kompetisi 2006/2007.
Berdasarkan data tersebut, maka pemain sepak bola memiliki resiko yang sama tingginya untuk terkena serangan jantung dengan atlet olah raga ketahanan lain. Bahkan mungkin pesepakbola profesional memiliki resiko yang lebih tinggi lagi. Hal ini diakibatkan intensitas latihan dan pertandingan yang dilakoninya jauh lebih tinggi. Pemain profesional umumnya bermain sekali dalam seminggu. Bandingkan dengan marathon misalnya, yang memiliki aturan untuk membatasi atletnya bertanding hanya dua kali dalam setahun.
Sepak bola sudah menjadi sebuah industri besar. Para pemain dituntut untuk memberikan seluruh kemampuan terbaiknya di semua pertandingan yang ia jalani. Sayangnya, jadwal yang padat menyebabkan fisik dan stamina pemain terkuras. Perlu perhatian khusus agar kesehatan dari para pemain tetap terjamin. Keuntungan yang diperoleh dari pertandingan sepak bola memang sangat besar, tapi keselamatan para pemainnya tentu harus lebih diperhatikan.

Serangan Jantung, "Malaikat Maut" di Lapangan
VIVAbola - Belum habis ingatan akan musibah yang menimpa Fabrice Muamba, dunia sepakbola kembali dikejutkan dengan insiden yang menimpa Piermarino Morosini, pemain klub Serie B Italia, Livorno. Pentas sepakbola dunia menangis.

Jika Muamba sampai hari ini masih bisa menghirup nafas dunia, Morosini justru kehilangan nyawa saat berlaga membela Livorno menghadapi Pescara, Sabtu 14 April 2012, di Stadion Adriatico. Morosini tumbang pada menit 31 dan tidak sadarkan diri di lapangan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sebelum dibawa ke dalam ambulan.

Sebelum tidak sadarkan diri, Morosini sebenarnya mencoba tiga kali bangkit untuk melawan serangan jantungnya. Fase kritis Morosini luput dari pandangan wasit karena posisinya yang jauh dari duel perebutan bola.
"Saat Morosini terjatuh, dia coba untuk bangkit kembali. Tapi, dia terjatuh lagi. Terapis kami menyadari apa yang terjadi," kisah CEO Pescara, Danilo Iannascoli dilansir dari Skysport Italia.
Sadar ada sesuatu yang janggal, pemain Livorno, Pasquale Schiattarella langsung berteriak minta wasit menghentikan permainan. Ofisial petandingan dilanda kecemasan menanti saat tim medis memberikan tindakan pertama kepada Morosini.
"Dia menatap mata kami saat ditandu ke ambulan," sambung Iannascoli, menggambarkan kondisi terakhir Morosini.

Kepastian meninggalnya Morosini akhirnya disampaikan dokter Rumah Sakit Cardiologic Civile Santo Spirito, Leonardo Paloscia. "Kami telah melakukan segala cara. Tapi, dia tidak pernah bereaksi," katanya pasrah.

Beragam spekulasi akan kematian Morosini mulai bermunculan ke muka publik. Pemain 25 tahun itu diduga mengalami 3 kali serangan jantung. Namun, tidak sedikit pihak yang menganggap nyawa Morosini tidak tertolong karena lambannya penanganan tim medis.

Dibutuhkan waktu sekitar 6 menit bagi mobil ambulan untuk memasuki Stadion Adriatico setelah Morosini tumbang. Keterlambatan tersebut disinyalir karena mobil polisi lalu lintas menghalangi pintu masuk darurat stadion.
Kabarnya, tim medis harus memecahkan kaca mobil polisi tersebut untuk memindahkannya dari depan pintu darurat dan memberi jalan ambulan memasuki kompleks stadion

Penyelidikan penyebab kematian Morosini tidak sampai di situ. Prosedur pertolongan pertama dari tim medis menjadi perhatian terkini.
Pasalnya, petugas medis tidak dilengkapi alat kejut jantung (Defibrillator) saat menangani Morosini yang telah terbujur kaku. Tim medis tampak hanya melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation).

Presiden Pescara, Daniele Sebastiani secara khusus menyampaikan duka mendalam atas insiden yang menimpa Morosini. "Sangat disayangkan, mereka bilang dia (Morosini) mengalami serangan jantung sebanyak 3 kali secara beruntun. Saya kehabisan kata-kata. Ini sebuah tragedi. Dia seharusnya tidak meninggal dalam usia muda di lapangan sepakbola," sesal Sebastiani di Football Italia.
Fakta Baru
Dugaan awal penyebab kematian Morosini memang serangan jantung. Namun, prediksi itu belum sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan sebelum proses otopsi dimulai.

Pasalnya, terkuak fakta baru, sesaat sebelum meninggal, Morosini sempat mengalami benturan kepala dengan pemain Pescara, Emmanuel Cascione. Kontak fisik tersebut ditengarai telah menyebabkan anuerisma (pecahnya pembuluh darah di otak).
Namun, tim dokter dari RS Pescara belum berani menyimpulkan penyebab utama kematian Morosini sampai proses otopsi selesai dilakukan. Mereka belum mau banyak berkomentar.
"Ada beberapa penyebab awal untuk memicu serangan jantung. Misalnya, syaraf. Tapi, itu semua akan dijelaskan dalam proses otopsi besok," kata dokter Paloscia dari RS Pescara.

Bukan yang Pertama

Kematian Morosini di atas lapangan hijau, membuka ingatan akan kejadian memilukan ini beberapa tahun silam. Tercatat, sejak 2003 silam 4 pemain kehilangan nyawa saat melakoni profesinya ini.

Marc Vivian-Foe wafat saat berada di atas lapangan. Ia menjadi punggawa timnas Kamerun di Piala Konfederasi 2003.
Setelah menghadapi Brasil dan Turki, Kamerun menantang Kolombia di semifinal pada 26 Juni 2003. Saat pertandingan berlangsung, Foe ambruk tidak sadarkan diri pada menit 72. Hasil otopsi memperlihatkan, dia mengalami Hypertrophic Cardiomyopathy.

Setahun kemudian, pentas sepakbola Eropa kembali berlinang air mata. Tepatnya 25 Januari 2004, pemain Hongaria yang berkostum Benfica, Miklos Feher harus menutup mata selama-lamanya saat Benfica berhadapan dengan Vitoria Guimares.

Kematian Feher tidak terduga. Usai menerima kartu kuning di injury-time, beberapa langkah kemudian Feher terlihat kesakitan dan terkapar.
Tengah malam, pemain kelahiran 1979 itu dipastikan telah meninggal. Penyebabnya klasik, serangan jantung.
Hingga kini, orang tidak lupa dengan senyuman terakhirnya. Senyuman saat dia menerima kartu kuning sesaat sebelum mengerang kesakitan. Pertandingan dan senyum terakhir dalam hidupnya.

Kasus serupa pernah terjadi di Liga Spanyol. Antonio Puerta, pemain harapan timnas Matador yang tinggal kenangan. Pemain jebolan Akademi Sevilla itu harus mengakhiri hidupnya karena terkena Arrhythmogenic Right Ventricular Cardiomyopathy saat menghadapi Getafe pada laga lanjutan La Liga, 25 Agustus 2007, di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan.

Pemain kelahiran 26 November 1984 itu harus menghadap Sang Kuasa sebelum meretas karir bersama klub mapan seperti Real Madrid, Manchester United dan Arsenal. Ketiga tim papan atas itu sempat menaruh ekspektasi kepada Puerta. Sepakbola Spanyol pun berduka atas kematian Puerta.

Kematian pemain juga terjadi di belahan dunia lainnya. Federasi sepakbola India (AIFF) mencatat, pada 20 Maret 2012 lalu, pemain Bangalore Mars, Venkatesh meninggal dunia saat bertanding di liga distrik India karena serangan jantung.

Namun, di antara banyak kasus kematian pemain yang terjadi, tidak sedikit di antara mereka yang berhasil lolos dari maut. Fabrice Muamba salah satu contohnya. Pemain timnas U-23 Inggris ini lolos dari maut setelah mengalami serangan jantung.

Muamba tidak sadarkan diri saat memperkuat Bolton Wanderers di partai perempat-final Piala FA menghadapi Tottenham Hotspur pada 17 Maret 2012 lalu. Pemain keturunan Zaire itu tidak sadarkan diri pada menit 41.
Dia langsung dilarikan ke Rumah Sakit London Chest. Praktis, pertandingan dihentikan dan kembali dilanjutkan sepekan setelahnya.

Mujur buat Muamba, penanganan cepat dan perawatan intensif dari tim medis membuat kondisinya jauh lebih baik. Diprediksi, dia bisa kembali bermain dalam 2 bulan ke depan, meski di tubuhnya harus dipakaikan alat pendeteksi kondisi jantung.

Tes Kesehatan Diperketat

Rentetan catatan hitam tersebut mendapat sorotan dari kalangan medis. Seorang ahli dari RS jantung San Camillo, dokter Carla Manzara meminta agar tes kesehatan kepada pemain diperketat.
"Ini adalah tragedi. Penjelasan yang dapat dipaparkan, ternyata para pemain tidak terpantau dengan cukup," kata Manzara dikutip dari Football Italia.
Masih menurutnya, kejadian serupa selalu berulang karena obat pencegahan untuk olahragawan tidak berkembang sebagaimana semestinya dan tidak mengikuti perubahan. "Dalam sepakbola ada penggunaan berbagai zat seperti protein dan integrator yang bukan sejenis doping. Tapi, itu bisa menimbulkan efek tertentu pada mereka yang memiliki kecenderungan genetik tertentu," jelasnya.
Kendati demikian, Manzara tidak ingin menerka-nerka penyebab kematian Morosini. Dia tidak ingin mendahului hasil otopsi. Selalu memantau kondisi kebugaran pemain menurutnya jadi solusi efektif untuk menekan angka kematian pemain di lapangan.
"Karena para pemain masih terbilang muda dan berkembang cepat yang dapat mengubah karakteristik fisik mereka. Kondisi itu harus terus dimonitor. Kami perlu pencegahan lebih. Tapi, dalam dunia sepakbola saya tidak tahu apakah itu mungkin," ujarnya.
Ide Manzara mendapat respon dari Asosiasi Pemain Italia (AIC). Melalui Presidennya, Damiano Tomassi, AIC berencana untuk membahas kasus ini secepatnya dan mengagas ide untuk memonitor kesehatan pemain lebih selektif.
"Kami akan menunggu untuk mengetahui lebih lanjut hasil otopsi. Kami berencana untuk mengadakan pertemuan demi mendiskusikan tragedi ini. Terutama masalah jaminan kesehatan dan keselamatan pemain," ujar Tomassi dilansir dari Football Italia.
Manzara tidak menyangkal sulit memantau kesehatan pemain dari liga amatir. "Dalam divisi profesional, ada jaminan tertentu. Namun, puluhan ribu pemain di liga amatir hanya segelintir yang melakukan pemindaian," sambungnya.
Di lain pihak, ketua dokter timnas Italia, Profesor Enrico Castellaci menyatakan jika standarisasi tes kesehatan pemain di Liga Italia sudah sudah sesuai prosedur. Jauh sebelum insiden yang menimpa Morosini.
"Tes yang kami lakukan sangat ketat. Pengujian ini kami lakukan di rumah sakit yang sudah teruji kualitasnya. Bahkan, transfer pemain yang gagal disebabkan beberapa dari mereka gagal tes medis. Di liga lainnya, pertandingan masih terus dilanjutkan jika terjadi hal serupa. Tapi, itu tidak di Italia," jelas Castellaci.

Senada dengan Castellaci, Presiden Federasi Kedokteran Olahraga Dunia, Fabio Pigozzi menyatakan jika Liga Italia telah memberikan perlindungan lebih kepada para pemainnya dibanding negara lainnya. "Hukum di Italia sangat ketat, kami berusaha untuk meminimalkan risiko itu. Memang tidak mungkin untuk menghapusnya, tapi kami tidak pernah lengah akan hal itu,” ujar Pigozzi.
Yang jelas, jangan sampai ada seniman-seniman lapangan hijau lainnya harus meregang nyawa saat menunaikan tugasnya. Jangan pula keindahan sepakbola di sisi lain lekat sebagai olahraga berbahaya yang mendekatkan pelaukanya dengan malaikat maut. (one)
Tags: , , ,

About author

Curabitur at est vel odio aliquam fermentum in vel tortor. Aliquam eget laoreet metus. Quisque auctor dolor fermentum nisi imperdiet vel placerat purus convallis.

0 comments

Leave a Reply